merajut.com

komunitas merajut dan merenda Indonesia

Website merajut.com kembali hadir setelah mengalami kerusakan. Harap dimaklum jika isinya belum lengkap.

Merajut/Knitting/Breien

Tutorial
Pola
Link

Merenda/Crocheting/Haken

Tutorial
Pola
Link

Pengunjung Online

We have 77 guests online
Cowok Merajut, Siapa Takut? PDF Print E-mail
Written by dydy   
Saturday, 24 January 2009 18:30

 

Sebelumnya, terimakasih kepada mas Budi Suwarna dari Kompas, yang sudah meliput komunitas merajut dan semakin memasyarakatkan wacana bahwa kegiatan merajut bukanlah monopoli kaum wanita.

Stereotyping kegiatan merajut yang terjadi di masyarakat, merajut diidentikkan dengan pekerjaan wanita, lebih sempitnya lagi nenek-nenek. Pemikiran seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia, bahkan juga di negara-negara yang kebudayaan merajutnya sudah lebih mendarah daging seperti di Amerika Serikat.

Padahal mereka yang merajut sebagai hobi, bukan hanya nenek-nenek. Di seluruh dunia, tua muda bahkan anak-anak, tidak hanya wanita, tetapi juga pria, banyak yang menggemari kegiatan merajut. Yang profesinya ibu rumah tangga, mahasiswa, karyawan, eksekutif, ilmuwan, bahkan selebriti Hollywood.

Jika menengok sejarahnya, sebenarnya kegiatan merajut pada awalnya dilakukan oleh para pria. Budaya merajut berasal dari Timur Tengah, tepatnya dari jazirah Arab sekitar 3000 tahun yang lalu. Oleh para pedagang Arab kemudian keterampilan ini disebar ke berbagai belahan dunia. Ke Timur hingga negri Tibet, Barat hingga ke Spanyol, dan ke daerah-daerah pelabuhan di wilayah Mediterrania. Dari negeri Spanyol kemudian menyebar ke daerah-daerah Eropa lainnya, dan dengan adanya kolonisasi Eropa di berbagai wilayah dunia, keterampilan ini menyebar pula hingga ke Amerika, Afrika dan Asia, termasuk hingga ke Indonesia yang diperkenalkan oleh orang-orang Belanda. Karena itulah di Indonesia keterampilan merajut lebih dikenal dengan istilah Belandanya, hakken (merenda atau crocheting, ialah merajut dengan satu jarum berkait) dan breien (knitting, merajut dengan dua jarum).

Memang kemudian kegiatan ini berangsur-angsur ditinggalkan oleh pria dan menjadi keterampilan standar wanita muda Eropa sebelum ditemukannya mesin tenun dan rajut. Ketika kemudian gerakan feminisme mencuat pada era 60an, kegiatan merajut ditinggalkan oleh wanita karena dianggap sebagai opresi terhadap kebebasan wanita. Mungkin dari sinilah munculnya stereotyping bahwa "merajut adalah pekerjaan nenek-nenek", karena terbentuk jurang generasi perajut, yaitu antara generasi wanita sebelum munculnya gerakan feminisme dengan generasi cucunya.

Di belahan dunia tertentu, pria merajut tidak pernah dianggap aneh. Seperti misalnya di Taquile, Peru, para pria terbiasa merajut penutup kepala tradisionalnya sendiri. Nelayan-nelayan Skotlandia merajut sendiri sweater-sweater mereka (guernsey).

Desainer rajutan juga tidak didominasi wanita, banyak di antara mereka adalah pria dan dipandang sebagai top designer. Di dunia knitting, nama-nama yang sering terdengar misalnya Kaffe Fassett (juga desainer sulam dan patchwork), Brandon Mably, Vladimir Teriokhin, juga desainer fashion James Coviello, Perry Ellis, Pierre Carrilero, Isaac Mizrahi, Marc Jacobs, Todd Oldham. Di dunia crochet, Kenzo dikenal sering mengangkat crochet dalam koleksi rancangannya, begitu juga Michael Kors. Hugo Kirchmaier adalah desainer crochet di awal abad 20, banyak menghasilkan desain filet crochet.

Dim lights Embed Embed this video on your site

Jadi pria tidak perlu merasa 'gengsi' merajut, karena pada awalnya pun kegiatan ini adalah kegiatan pria. Di atas ini video yang menunjukkan para pria yang merajut, "Real Men Knit".

Yuk, merajut!

*lebih jauh tentang pria merajut : http://www.menknit.net/

 

 

Add comment


Security code
Refresh

Joomla 1.5 Templates by Joomlashack